Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Ganja Dapat Berfungsi Sebagai Obat

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_mOqi9nJNCuF1jxNEbZxJId7B9w8ETAcIV3cclO5Wp2s_WKOImkcaiUpuMsTqecvemlPdmrH-Y-2wwkLgSIYku-U-rs0espVAZlFgx_YKv8IeRDmXYZPnexOfMjtajAuMuT0am1ph7aC0/s400/ganja-smile2.gif

Peneliti telah menunjukkan bahwa ganja bisa mengurangi rasa sakit dan mabuk, merangsang nafsu makan, serta bisa menolong meringankan sakit pada penderita HIV, kanker, dan multiple sclerosis.

Tetapi orang-orang yang menggunakan ganja secara terus menerus dalam waktu yang lama bisa menyebabkan ketergantungan yang merusak otak dan tubuh sendiri. Pro kontra apakah ganja bisa digunakan bebas untuk obat terus bergulir di beberapa negara maju seperti Inggris. Isu ini membuka lagi kontroversi bagaimana seharusnya penjualan ganja yang dibolehkan untuk orang-orang sakit.

Isu lama ini masih belum terpecahkan karena ganja lebih banyak diselewengkan daripada dimanfaatkan oleh yang mengonsumsinya. Perusahaan-perusahaan obat juga tidak punya kesempatan untuk memperbesar keuntungan karena penjualan ganja masih melanggar hukum.

Seorang penderita migrain (sakit kepala sebelah) Marie Summers di Inggris sampai memohon agar penjualan ganja untuk orang sakit dibolehkan. Bertahun-tahun Marie terpenjara rasa sakit. Semua obat tak mempan hingga akhirnya ia mengatasinya dengan menggunakan obat terlarang itu. Hasilnya bagaikan sebuah keajaiban.

Migrain yang diderita Marie sudah dalam tahap mengacaukan hidupnya. Migrain menimbulkan lebih banyak rasa sakit dan tidak ada yang bisa menghentikan serangannya. Jika sudah terserang migrain, Marie tiba-tiba tidak bisa berjalan karena kakinya tiba-tiba menjadi tidak mampu digerakkan. Ketika memaksakan diri, dia mulai gemetar dan kehilangan kesadaran.

Migrain juga membuatnya tidak dapat fokus dalam membaca dan menulis atau terlibat dalam percakapan yang panjang, dan setiap gerakan secara tak terkendali membuatnya pusing.

"Aku hampir selalu tidak mampu bangun dari tempat tidur. Aku masuk dan keluar rumah sakit tetapi tetap saja migrain itu terus menyerangku. Migrain tersebut semakin menghancurkan kualitas hidupku," ujar Marie seperti dilansir dari Independent, Sabtu (7/8/2010).

Dalam kondisi putus asa, Marie kemudian mencari informasi di internet yang menemukan pengalaman orang yang sembuh migrain karena ganja. Marie semula tidak ingin mengonsumsi ganja karena dia pernah terpuruk karena kecanduan ganja saat remaja. Namun akhirnya dia mencobanya dan ajaibnya rasa sakit kepalanya hilang. Tidak hanya dirinya yang membaik tapi dia juga punya waktu untuk putranya. Tapi karena khawatir akan kecanduan seperti kala remaja dia hanya mencoba sekali.

Tapi yang terjadi ketika serangan itu datang lagi, obat-obatan tak mampu menyembuhkannya. Marie akhirnya memilih untuk menggunakan ganja, dengan alasan karena merasa lebih baik dan menyelamatkan dirinya dari kekacauan hidup. Dalam hitungan menit penggunaan sedikit ganja membuat rasa sakitnya hilang. "Tubuhku merasa damai. Tidak ada yang sakit dan terasa salah. Aku masih lemah, tetapi aku bisa bergerak setenang dan seanggun dulu. Jumlah ganja sedikit membebaskan tubuhku dari rasa sakit ini. Aku merasa lebih banyak tersenyum daripada biasanya, karena lapisan nyeri yang selama ini menutupiku telah berhasil diangkat," tutur Marie.

Marie mampu mengerjakan aktivitas yang telah lama ditinggalkan dan dilewatkan. Tetapi kesulitannya jika kambuh dia tidak bisa mendapatkan ganja. Marie berharap orang-orang sakit yang terbantu karena ganja sebaiknya diizinkan mengonsumsinya. 
Pengakuan Marie ini membuka lagi kontroversi bagaimana seharusnya penjualan ganja yang dibolehkan untuk orang-orang sakit. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui konsentrasi dan dosis yang tepat penggunaan ganja untuk melawan sakit.

Ilmuwan mengungkapkan ada beberapa fakta ganja yang memang bisa menjadi obat.

1. Peneliti telah menunjukkan bahwa ganja bisa mengurangi rasa sakit dan mabuk, merangsang nafsu makan, serta bisa menolong gejala penyakit seperti HIV, kanker, dan multiple sclerosis. Tetapi orang-orang yang menggunakan ganja secara terus menerus dalam waktu yang lama bisa menyebabkan ketergantungan.

2. Di tahun1999, penyelidikan House of Lords inquiry merekomendasikan bahwa ganja dibuat tersedia dengan resep dokter. Percobaan klinis jangka panjang telah disahkan tetapi tidak ada kesimpulan yang dibuat.

3. Ganja legal untuk penggunaan medis di negara yang termasuk Kanada, Austria, Jerman, Belanda, Spanyol, Israel, Itali, Finlandia, Portugal dan 14 negara bagian Amerika.

4. Obat ganja umumnya dihisap, tetapi bisa juga diberikan dalam kapsul atau dengan memakan atau meminum sarinya. Dua komponen utama adalah THC (Tetrahydrocannabinol) dan CBD (Cannabidiol).

Kadar THC yang tinggi menyebabkan pengguna merasa mabuk, dimana kadar CBD mengurangi beberapa pengaruh dari THC dan meningkatkanyang lainnya, membuatnya menjadi lebih sesuai untuk penggunaan obat.

5. Colin Davies, 42 tahun, warga Stockport dibebaskan oleh pengadilan Manchester pada Juli 1999, dalam menyuplai 2 penderita MS dengan obat mariyuana. Davies sendiri menggunakan obat setelah menderita efek samping dari obat yang diresepkan. Pertimbangan ini adalah yang pertama kalinya dalam pengadilan di Inggris.

6. Jason Turner, 23 tahun, warga Clifton, ditahan oleh pengadilan Nottingham pada tahun 2009 setelah mengaku bersalah karena memproduksi ganja di lotengnya, dengan alasan bahwa ia memerlukannya untuk membantu mengurangi rasa sakit karena arthritis akut yang dialaminya sejak lahir

Sumber : www.detikhealth.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hubungan Tikus dengan Percobaan Medis

Tahukah Anda mengapa tikus sering kali digunakan dalam berbagai percobaan medis?

Ternyata tikus memiliki peran sangat penting dalam percobaan medis. Mulai dari perumusan obat kanker baru hingga pengujian suplemen makanan, tikus berperan penting dalam keajaiban medis baru.

http://static.inilah.com/data/berita/foto/1157742.jpgBahkan, menurut Foundation for Biomedical Research (FBR), 95% hewan laboratorium adalah tikus. Ilmuwan dan peneliti bergantung pada tikus karena beberapa alasan. Salah satunya, pengerat ini kecil, mudah disimpan dan dipelihara serta bisa beradaptasi baik dengan lingkungan baru.

Hewan ini berkembang biak dengan cepat dan berumur pendek (2-3 tahun) sehingga beberapa generasi tikus dapat diamati dalam waktu singkat. Selain itu, tikus relatif murah dan dapat dibeli dalam jumlah besar dari produsen komersial yang mengembang biakkan pengerat khusus untuk penelitian. Umumnya, tikus patuh dan hewan ini mudah ditangani peneliti, meski ada beberapa jenis sulit ditangani.

Sebagian besar tikus percobaan medis hampir identik secara genetis, kecuali jenis kelamin. Menurut National Human Genome Research Institute, hal ini membantu menyeragamkan hasil percobaan medis. Sebagai syarat minimum, tikus memiliki ras sama.

Alasan lain tikus digunakan sebagai model uji medis adalah genetik mereka, karakteristik biologi dan perilakunya sangat mirip manusia, dan banyak gejala kondisi manusia dapat direplikasi pada tikus.

"Tikus merupakan mamalia yang memiliki banyak proses seperti manusia dan bisa digunakan menjawab pertanyaan banyak penelitian," kata perwakilan National Institutes of Health (NIH) Office of Laboratory Welfare Jenny Haliski.

Selama dua dekade terakhir, kesamaan itu makin kuat. Kini, ilmuwan dapat mengembangkan ‘tikus transgenik’ yang membawa gen mirip penyebab penyakit manusia. Tikus juga membuat penelitian efisien karena anatomi, fisiologi dan genetikanya dipahami dengan baik oleh peneliti.

Beberapa tikus SCID (severe combined immune deficiency) secara alami terlahir tanpa sistem kekebalan tubuh dan dapat menjadi model penelitian jaringan normal dan ganas manusia. Berikut contoh gangguan manusia dimana tikus digunakan sebagai modelnya.

Hipertensi, diabetes, katarak, obesitas, kejang, masalah pernapasan, ketulian, parkinson, alzheimer, kanker, cystic fibrosis, HIV dan AIDS, penyakit jantung, muscular dystrophy, cedera kabel spinal.

Tikus juga digunakan untuk pengujian obat anti-kecanduan yang berpotensi mengakhiri kecanduan narkoba.

"Menggunakan hewan penting untuk pemahaman ilmiah sistem biomedis yang mengarah ke obat, terapi dan penyembuhan yang berguna," kata Haliski.

source: http://feriandyundercover.blogspot.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kopi Bisa Mencegah Diabetes

 Berikut ini ialah informasi + tips yang berkaitan dengan dunia kesehatan : 

Bagi para pencinta kopi, tentu saja tidak akan pernah melupakan rasanya yang khas dan enak. Selama ini masyarakat menilai kopi memiliki dampak buruk bagi kesehatan akibat kandungan kafeinnya. Peneliti berpikir bahwa kopi dapat mempengaruhi tubuh untuk meningkatkan kadar gula. Ternyata, pendapat mengenai kopi terbantahkan sebuah penelitian terbaru di Amerika Serikat.

Kopi tidak hanya enak dan bisa mengobati kantuk. Sebuah penelitian terakhir menunjukkan bahwa minuman yang terbuat dari biji kopi (Coffea arabica dan Coffea canephora) dapat mencegah diabetes tipe dua yang diakibatkan oleh defisiensi sekresi insulin.. Ini adalah kesimpulan yang diperoleh beberapa tahun lalu, namun baru diketahui baru-baru ini.

Para ilmuwan di University of California Los Angeles, Amerika Serikat diperiksa SHBG (sex hormone-binding globulin), hormon yang mengatur aktivitas testosteron dan estrogen. SHBG juga berperan meningkatkan kekebalan terhadap diabetes. "Ternyata konsumsi kopi SHBG meningkat," kata mahasiswa program doktor di Fakultas Kedokteran, UCLA, Atsushi Goto, menurut Science Daily .
Sebelumnya, peneliti berpikir bahwa kopi mempengaruhi meningkat toleransi tubuh untuk gula. "Tapi itu salah," kata Profesor Simin Liu,'s rekan Goto dalam penelitian ini.
Dari penelitian terhadap 40 ribu perempuan, itu adalah menunjukkan bahwa orang yang minum empat cangkir kopi per hari memiliki SHBG lebih tinggi daripada bukan peminum kopi. 56 persen dari para responden menunjukkan mereka terkena risiko diabetes lebih rendah dibandingkan yang tidak mengonsumsi kopi. [Medicmagic.Net]

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perjalanan Nikotin Hanya 7 Detik Sampai Ke Otak

Nikotin merupakan salah satu zat yang dilepaskan ketika seseorang merokok. Ternyata waktu yang dibutuhkan oleh nikotin untuk bejalan dari paru-paru ke otak hanya selama 7 detik saja. 
 
Salah satu obat yang paling banyak disalahgunakan penggunaannya adalah nikotin, yaitu bisa berasal dari merokok atau mengunyah tembakau. Selain itu nikotin juga termasuk salah satu zat yang paling adiktif dibandingkan dengan obat-obatan lain.

Seperti dikutip dari BBCNews, Rabu (8/12/2010) perjalanan nikotin dari paru-paru ke otak terbilang sangat cepat yaitu hanya 7 detik saja. Setelah sampai di otak nikotin akan merangsang pelepasan dopamin, yaitu suatu neurotransmitter penting yang terlibat dalam suasana hati (mood), selera makan dan fungsi otak lainnya.

Ketika seseorang merokok, maka nikotin akan masuk dan mulai menumpuk di dalam tubuh. Lama kelamaan seseorang akan terbiasa dengan nikotin dan jika ia tidak mendapatkan jumlah yang sama maka tubuh akan meminta lebih. Dan biasanya jumlah nikotin yang masuk akan semakin besar atau meningkat.

Pengguna nikotin bisa dengan cepat menjadi ketergantungan, karena hanya dibutuhkan sedikit rokok untuk bisa membuat seseorang memiliki kecanduan. Jika seseorang tiba-tiba berhenti merokok, maka ia akan mengalami efek balikan (withdrawal effect) seperti cemas dan perubahan suasana hati.

Salah satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah kecanduan nikotin biasanya dimulai sejak seseorang mencoba-coba atau bereksperimen dengan rokok selama setahun. Dalam banyak kasus kondisi ini terkadang sudah dimulai sejak seseorang masih bersekolah atau berusia 13-14 tahun.

Sebagai obat murni, nikotin hanya memiliki sedikit efek buruk bagi kesehatan fisik seseorang. Tapi zat-zat kimia lain yang terdapat di dalam rokok dan bergabung dengan nikotin inilah yang bisa menimbulkan banyak kerusakan bagi tubuh. Karena ketika sebuah rokok dibakar dan dihisap, maka ada ratusan senyawa kimia yang dihasilkan dan berisiko besar terhadap kesehatan.

Nikotin awalnya ditemukan oleh duta besar Prancis, Jean Nicot pada pertengahan abad XIV. Saat itu masyarakat mempercayai nikotin sebagai obat. Setengah abad kemudian baru diketahui bahaya dari nikotin bagi tubuh, namun hanya beberapa orang saja yang mampu berkata tidak terhadap nikotin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS